Gunung Tumpa

Gunung Tumpa memiliki ketinggian sekitar 750 meter diatas permukaan laut. Ukuran gunung yang cukup kecil, cocok untuk para wisatawan yang bukan berprofesi sebagai pecinta alam namun ingin mencoba menaklukan gunung tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga.

Gunung ini merupakan hutang lindung yang hijau dan rindang yang juga ditumbuhi oleh sekumpulan pohon kelapa berupa perkebunan kelapa rakyat. Dengan ketinggian yang tidak terlalu tinggi untuk sebuah gunung dari Gunung Tumpa para pendaki dapat melihat dengan indah keseluruhan kota Manado serta kepulauan Bunaken.

Keindahan Pulau Manado Tua dan Pulau Bunaken terlihat sangat indah dan jelas bentuknya saat memandang ke sisi barat laut. Gunung Tumpa memang sudah terkenal di Manado untuk pemandangannya, ya karena dengan posisi yang cukup tinggi dari gunung Tumpa wisatawan dapat menyaksikan keindahan lampu-lampu yang menyala menghiasi kota Manado.

Untuk pendakian, memang cukup terjal dan menanjak. Seperti gunung-gunung yang lain di Gunung Tumpa juga belum tersedia penginapan, sehingga para pendaki yang berniat menginap harus mempersiapkan kemah instan sendiri atau kemah yang terbuat dari jas hujan yang muat untuk 1 orang ala pecinta alam, tidak repot kalau memang anda benar-benar berniat untuk menginap untuk menikmati indahnya matahari terbit dipagi hari atau juga saat-saat matahari terbenam di sore hari.

Selain itu di Gunung Tumpa juga bisa ditemukan lokasi wisata bukit doa, meski tak semegah dan seluas bukit doa yang ada di Tomohon, namun bukit doa ini termasuk cukup untuk menjadi tempat refleksi diri sambil menenangkan diri dari kehirukpikukan kota Manado, malah ketenangannya lebih sunyi disini.

Memungkinkan pengunjung yang nasrani untuk berdoa dengan khusyuk. Di bukit doa ini juga cukup sering digunakan sebagai acara retreat, sebuah acara yang biasanya dilakukan 2-3 hari untuk lebih mendekatkan diri sambil refreshing. Ada juga lokasi wisata yang bernama Mamre Green Hills.

Untuk menuju kedua wisata tersebut pengunjung dapat mencapainya menggunakan kendaraan pribadi karena belum ada angkutan umum yang trayeknya sampai di gunung, namun untuk mencapai titik puncaknya pastilah harus berjalan kaki.

Di Gunung Tumpa jarang terjadi keramaian yang sampai membuat orang berdesak-desakan. Untuk hanya sekedar jalan-jalan dan menikmati pemandangan pegunungan biasanya para penduduk sekitar sering mendatangi Gunung Tumpa saat weekend dan biasanya malam hari, untuk menikmati lampu-lampu. Pagi hari juga banyak orang yang datang.

Sedangkan dibukit doa biasanya ramai akan pengunjung pada saat menjelang hari raya umat nasrani, Natal maupun Paskah. Banyak orang yang datang untuk berdoa dan juga ada rombongan yang datang untuk melakukan retreat. Tidak banyak yang dapat dibeli disini, hanya sedikit souvenir di bukit doa.

Menuju Gunung Tumpa dari Manado tidak terlalu lama, tidak sampai 1 jam, mungkin hanya sekitar 50 menit jika perjalanan tanpa macet. Dari pusat kota Manado para wisatawan yang berniat mengunjungi Gunung Tumpa dapat melakukan perjalanan ke arah timur laut, menuju arah bandara untuk mendaki Gunung Tumpa lewat sisi selatan gunung dan juga bisa menuju kecamatan Dimembe untuk mendaki dari sisi barat gunung.

Tidak banyak yang dapat dibeli di Gunung Tumpa jadi sebaiknya siapkanlah sendiri segala kebutuhan anda, tenda jika ingin menginap, minuman dan makanan secukupnya, pakaian ganti jika perlu dan juga uang tunai secukupnya untuk berjaga-jaga.

Disarankan juga untuk membawa kamera karena pemandangan dari atas gunung sangatlah indah dan untuk mendapatkan gambar yang lebih bagus sebaiknya jangan datang terlalu sore karena memungkinkan ada sedikit kabut yang akan menghalangi pemandangan.

Sampai saat ini, Gunung Tumpa belum tersentuh oleh transportasi umum, jadi sebaiknya gunakanlah kendaraan pribadi atau sewaan. Karena menjadi pusat pariwisata, banyak usahawan kota Manado yang bergerak dibidang sewa mobil dan syarat-syaratnya pun cukup mudah untuk disewa para wisatawan.

Rata-rata harga sewa mobil perhari sekitar Rp 250.000, disediakan juga fasilitas supir dan bensin dengan negosiasi harga tertentu. Bagi para wisatawan dari luar Sulawesi sempatkanlah untuk menikmati makanan khas Sulawesi Utara yang beberapa menunya jarang sekali ditemukan di Indonesia bagian barat.

Tinutuan atau lebih dikenal sebagai bubur Manado oleh masyarakat Indonesia secara umum adalah makanan yang paling dikenal dari Sulawesi Utara, bubur dengan campuran labu merah dan singkong ditambah santan, biji jagung dan beberapa sayuran lainnya patut untuk dicoba dan sebagai saran daerah penjual Tinutuan yang paling terkenal di Manado adalah Wakeke.

Banyak juga menu makanan yang cukup asing seperti Paniki dengan bahan dasar daging kelelawar, Kawok yaitu olahan tikus hutan ekor putih, olahan ikan woku, olahan ikan cakalang, berbagai olahan menu daging babi dan masih banyak yang lain.

Memang harus berhati-hati jika wisatawan yang muslim berkunjung ke Sulawesi Utara, karena mayoritas penduduknya memang nasrani dan tentunya bagi umat muslim ada beberapa perbedaan pantangan makanan.

Namun tidak perlu khawatir karena di Sulawesi Utara tidak terlalu cium ‘bau-bau’ SARA, perbedaan agama di Sulawesi Utara juga ditanggapi masyarakat dengan kerukunan dan keramah tamahan. Dan satu lagi, jangan mudah tersinggung dengan kata-kata bernada tinggi yang sering diucapkan oleh masyarakat Minahasa, penduduk asli Sulawesi Utara, karena memang sudah cukup mendarah-daging bagi mereka.

Jadi bagi wisatawan pendatang jangan kaget dan dimasukkan ke dalam hati ya. Pada kenyataannya masyarakat Minahasa ramah dan memiliki rasa persaudaraan yang baik kok. Source: jalan2.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *